Salam Dulu baru baca ^_^

Salam Dulu baru baca ^_^

Rabu, November 25, 2009

Sejenak Merenungi Hikmah Qurban

Tinjauan Historis

Mempersembahkan sesuatu persembahan kepada tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejak lama, bahkan sejak awal keberadaan manusia. Dua putra Adam a.s. berlomba dalam qurban. Qabil mempersembahkan seikat buah-buahan hasil pertaniannya dan Habil mempersembahkan seekor domba, lalu Allah menerima qurban Habil.

Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Islam. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Mutalib, kakek Rasululluah, pernah bernadzar kalau diberi karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih satu sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraisy melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta. Karena kisah ini pernah suatu hari seorang badui memanggil Rasulullah "Hai anak dua orang sembelihan" beliau hanya tersenyum, dua orang sembelihan itu adalah Ismail a.s. dan Abdullah bin Abdul Mutalib.

Begitu juga persembahan manusia ini dikenal oleh tradisi agama pada masa Mesir kuno, India, Cina, Irak dan lainnya. Kaum Yahudi juga mengenal qurban manusia hingga Masa Perpecahan. Kemudian lama-kelamaan qurban manusia diganti dengan qurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti qurban menusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan hitan.

Kitab injil penuh dengan cerita qurban. Penyaliban Isa menurut umat Nasrani merupakan salah satu qurban teragung. Umat Katolik juga mengenal qurban hingga sekarang berupa kepingan tepung suci. Pada masa jahilyah Arab, kaum Arab mempersembahkan lembu dan onta ke Ka'bah sebagai qurban untuk Tuhan mereka.

Adapun Al Qur-an telah mengabadikan kisah perintah penyembelihan Ismail oleh Ibrahim a.s.

Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut. Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan terhadap Allah.

Dua nilai penting yang dilekatkan terhadap ibadah qurban: yaitu “nilai historis” berupa pengabadian kisah pengorbanan Ibrahim a.s. dan “nilai kemanusiaan” berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya. Qurban juga ditujukan untuk memberi makan jamaah haji dan penduduk Makkah yang menunaikan ibadah haji.


Qurban: Bentuk Ketaatan dan Kesyukuran

Salah satu landasan syar’i ibadah qurban adalah surat Al Kautsar. Yang artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (dengan menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah)
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Di dalam “Fi Zhilalil Qur-an”, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa berbagai tipu daya dan permusuhan dilontarkan oleh kaum musyrikin Quraisy terhadap Rasulullah dan dakwahnya. Tidak terhitung lagi hinaan, cacian dan ejekan yang dilontarkan oleh mereka. Di antara mereka adalah al-'Ash bin Wa'il, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, Abu Lahab, Abu Jahal dan lain-lain. Mereka mencemooh Rasulullah s.a.w. sebagai manusia yang putus keturunan, lantaran semua anak lelakinya wafat. Kata salah seorang mereka: "Biarkan saja Muhammad, karena dia akan mati tanpa meninggalkan seorang pun anak lelaki dan perjuangannya tak lama akan berakhir begitu saja."

Sedikit banyak cemoohan ini telah melukai hati Rasulullah dan membuatnya bersedih. Memang jika ditilik kondisi sosiologis masyarakat Quraisy saat itu, cemoohoan macam ini merupakan sesuatu hal yang sangat menyakitkan. Masyarakat Quraisy memang biasa berbangga-bangga dengan banyaknya anak laki-laki.

Surat ini kemudian turun menghiburkan hati Rasulullah. Allah tegaskan bahwa sesungguhnya Muhammad telah mendapat karunia kenikmatan yang melimpah ruah: karunia kenabian, penerima wahyu Al Qur-an, namanya senantiasa disandingkan dengan nama Allah, para malaikat bersholawat kepadanya, nikmat hidayah iman, keislaman dan dakwah, dan kebaikan dirinya akan senantiasa dikenang manusia hingga akhir zaman. “Inna a’thainakal kautsar” (sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak).

Sebagai bentuk kesyukuran atas semua nikmat tersebut maka dirikanlah sholat dan berkorbanlah (“fasholli lirobbika wanhar”). Bagi seorang mukmin di menyadari akan keberadaan Allah. Segala kebaikan yang ia nikmati dalam kehidupannya semuanya karunia Allah. Maka kemudian dia bersyukur, dengan sholat dan menunaikan segala bentuk ketaatan dan penghambaan tulusnya pada Allah, tanpa tercampur sedikitpun kesyirikan. Ia qurbankan segala nikmat di jalan Allah.

Ayat ke-3 menegaskan, orang-orang kafir itulah yang pada hakikatnya terputus dari kebaikan dan rahmat. Walaupun mereka merasa mendapat kesenangan (di dunia).

sumber : http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/inbox/?folder=[fb]messages&page=1&tid=1140308879680

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ma'an Najah

Ma'an Najah

Jazakallah khairan katsiran

Jazakallah khairan katsiran